Beranda Resto & Cafe Gudeg Manggar, Kuliner Langka Yang Jarang di Jual

Gudeg Manggar, Kuliner Langka Yang Jarang di Jual

83
0
BERBAGI

JAKARTA-JENDELAKULINER.COM- Bicara makanan khas Yogyakarta pastinya tak lepas dari gudeg. Gudeg biasanya dibuat dari buah nangka yang dimasak dengan rasa manis disertai dengan beberapa lauk bacem, seperti tempe, tahu, telur, ayam dan sambel krecek.

Namun ada satu jenis gudeg yang langka atau jarang dijual, yakni gudeg manggar. Berbeda dengan gudeg pada umumnya, gudeg manggar terbuat dari bunga buah pohon kelapa (dalam bahasa Jawa disebut manggar). Biasanya penyajian gudeg ini akan dilengkapi dengan lauk seperti sambal krecek, tahu dan telur bebek bacem.

Gudeg ini sendiri telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Konon kabarnya, gudeg manggar jadi makanan favorit dan diciptakan oleh Putri Pembayun, putri dari Panembahan Senopati, raja Mataram Islam saat itu. Menurut legenda, siapapun yang memakan gudeg manggar konon akan dikelilingi oleh aura keraton.

Manggar itu kan putik bunga kelapa. Sebagai embrio dari minyak. Karena masih embrio maka kandungan minyak masih kecil (rendah). Kalau mengkonsumsi Manggar, maka wajahnya akan (menjadi) kinclong,” jelas salah satu ahli kecantikan .

Gudeg manggar telah ada sejak 500 tahun lalu. Sejarah Gudeg Manggar bermula dari racikan Puteri Pembayun yang merupakan istri dari Ki Ageng Mangir, pemimpin perdikan Mangir. Puteri Pembayun merupakan putri Panembahan Senopati, pendiri sekaligus sultan Mataram Islam pertama. Puteri Pembayun dinikahkan ayahandanya sebagai strategi ‘penaklukan’ Perdikan Mangir yang saat itu selalu berseberangan dengan Kesultanan Mataram Islam yang baru berdiri.

Melihat di daerah Mangir pohon kelapa banyak tumbuh dan sebagai lahan penghidupan utama, Puteri Pembayun memiliki ide untuk menciptakan gudeg manggar. Mulanya gudeg manggar hanya bisa ditemui di daerah Mangir saja. Gudeg manggar juga mulanya disajikan hanya dalam acara-acara tertentu seperti perayaan hari raya agama, pesta keluarga dan acara khusus lainnya.

Seiring berjalannya waktu, gudeg manggar kemudian menyebar ke seluruh daerah Bantul dan menjadi suguhan sehari-hari masyarakat Bantul. Terlebih saat musim paceklik di zaman penjajahan, gudeg manggar menjadi makanan penyelamat masyarakat Bantul. Meski begitu, sejalan dengan makin membaiknya kondisi dan makin sedikitnya bunga kelapa yang tersedia, gudeg manggar ditinggalkan oleh masyarakat. Ada masa ketika gudeg manggar hampir punah.(hel)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.